Buku cetak sekarat, panjang umur buku !

Karena buku cetak dan digital sama-sama dibutuhkan

Sekitar tahun 90’an generasi cindy cenora sangat diasyikkan dengan beberapa majalah anak-anak salah satunya yang paling terkenal adalah majalah Bobo, ruang tamu dan kamar pun dihiasi dengan koleksi majalah anak-anak, tak peduli ketika itu orang tua pusing dengan krisis moneter, lalu saat remaja mungkin kalian akan berkenalan dan jatuh hati dengan fantasi teen, hai, dan majalah remaja lainnya selain beberapa novel dan buku pelajaran yang akan kalian pinjamkan pada teman atau pacar.

Lalu, di sisi lain seorang introvert akan bergegas pulang ke rumah seusai sekolah yang baginya kadang memuakkan tanpa memedulikan orang-orang yang sudah menganggapnya sebagai kawan, lawan atau mengaguminya. Ia berjalan dengan kepala sedikit menunduk, seolah membayangkan di jalanan ada gambaran hal-hal luar biasa yang akan dilakukannya di rumah, sesampainya di rumah, majalah konsol permainan video, cepat ia ambil diatas tumpukkan buku bacaan fiksi koleksinya yang tidak boleh terlipat sedikit pun.

Teknologi berkembang sangat cepat, hingga tahun 2004 menurut saya adalah awal internet menjadi sangat populer, dan mulai menyebar ke desa-desa disertai bangkitnya media sosial. Hari ini, orang-orang dengan bebas dan mudah bisa mengakses berita, mencari referensi untuk tugas kuliah, info lowongan kerja, dan membaca buku/majalah secara daring berkat pengolahan data dan komputasi awan. Melihat hal itu, banyak pakar dan yang bukan pakar teknologi diikuti pengantusias buku meramalkan kiamat buku cetak.

Di Indonesia sendiri ramalan kiamat buku semakin menguat ketika rolling stone telah lama menyediakan majalah digital, terbitan novel terbaru bisa diunduh di play store, aplikasi native maupun web berlomba-lomba untuk menyediakan jasa membaca artikel dan berita pilihan guna memenuhi kebutuhan para pembaca.

Namun, kenyataannya toko buku fisik tetap ramai dikunjungi, orang-orang tetap betah untuk berlama-lama membaca di perpustakaan, Jonru dengan bangga menerbitkan buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat”, dengan cover ilustrasi dirinya mengenakkan kostum super hero disertai logo huruf p (penulis) hebat mungkin ?, padu padan dengan pena raksasa di tangan kanan, dan kertas di tangan kiri. Pesan yang saya dapat adalah “Hei inilah aku, penulis hebat. Setiap kata-kata ku adalah final !”, haha.

Lalu, mengapa buku cetak tetap banyak dijadikan media untuk membaca dan buku digital adalah ide yang sangat bagus ?. Berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri ada beberapa hal yang membuat buku cetak tetap diandalkan, di antara lain adalah :

  • Ketika akan membeli buku kita dimudahkan dengan membaca ringkasan isi dan beberapa konten yang akan dihadirkan untuk dibaca, dan itu langsung berada di tangan, dimana pada buku digital saat di situs online ditampilkan dengan tampilan terbatas dan dibutuhkan navigasi tertentu untuk melihat ringkasan isi dan konten.
  • Membaca buku cetak sangat santai, bebas dari radiasi cahaya, dan buku cetak sendiri tidak membutuhkan energi agar memungkinkan kita untuk membaca. Buku digital sangat ringan dan tidak menyusahkan ketika ternyata ketika dicetak dalam buku cetak akan sangat tebal.
  • Walaupun memakan banyak tempat dan kadang menyusahkan saat pindahan, buku-buku koleksi mengajarkan saya bagaimana caranya mengatur letak buku-buku agar estetik dan sesuai dengan besar ruangan, menyortir sesuai kebutuhan dan kategori. Dalam hal ini buku digital tidak pernah merepotkan.
  • Meskipun pada buku digital ada fitur untuk mencari kata tertentu, tetapi pada buku cetak kita disuguhi pengalaman membaca yang lebih bebas untuk membolak-balik halaman buku.
  • Terakhir, bagi saya adalah rasa puas untuk memiliki. Saya sudah merasa memiliki buku kalau memang rilisan buku tersebut hanya dalam bentuk digital, tetapi saya belum merasa sepenuhnya memiliki buku kalau buku tersebut dirilis dalam bentuk digital dan cetakan, sedangkan saya hanya mengunduh buku digital, pada sisi lain saya diuntungkan karena tidak perlu ke toko fisik untuk membelinya atau menunggu sangat lama untuk mendapatkannya.

Oleh karena itu bagi saya membandingkan buku digital dan buku cetak, atau mana yang lebih unggul, adalah hal yang kurang tepat. Apalagi ide mengubah semua buku ke dalam bentuk digital, karena tidak bisa dipungkiri kita membutuhkan kedua-duanya dalam keadaan, dan situasi tertentu.

Hal tersebut bagi saya bukan hanya sebatas nostalgia semata, walaupun mungkin nostalgia bagi sebagian orang sangat mempengaruhi dalam pilihan tersebut. Tetapi jangan salah, saya termasuk orang yang tidak begitu suka, bahkan kadang benci dengan nostalgia. Terdengar ambisius dan berlebihan ?, saya tidak peduli, semoga saya tidak sendiri.

Buku adalah teks yang dicetak dan yang terpampang pada layar, atau bisa juga terbagi pada media lainnya. Panjang umur membaca ! Panjang umur buku !

Iklan

Menghormati Keputusan si Fulan

Butuh pengikut untuk setuju atau sekadar bingung terbawa arus

Akan sangat mudah bagi kita untuk menghormati pendapat dan keputusan kawan yang memang sudah biasa berbeda dari kita, lebih lagi jika tingkat pengetahuan dan kesabarannya telah lama kita ukur. Namun, hal itu sudah tidak biasa lagi ketika sudah menghakimi cara berkeyakinan, pakaian seperti apa yang layak pakai, dan guru mana yang patut diikuti agar menjadi suatu kewajban untuk dipatuhi, bila tidak bersiaplah dengan label munafik, kafir, dan sesat.

Bahkan seorang guru besar dan ulama yang berilmu tak luput dari caci maki “haram zadah !”, tanpa berpikir panjang sebut saja namanya si Fulan bahkan mengatakan si ulama tadi telah memakan daging haram, tentu masih ada (saja) orang-orang yang menyukai caci maki si fulan ini, setiap kata-kata yang keluar dari mulut si fulan adalah final, setiap pendapatnya seolah menjadi hukum yang wajib dipatuhi, semua harus setuju. Bila ingin menyanggah harus ada sedikit pujian untuk pendapatnya, walaupun dalam kenyataan pendapatnya itu tidak berdasarkan fakta, sekadar asumsi bahkan isu yang tidak jelas.

Media sosial hari ini adalah tempat yang ramai untuk bersuara, bahkan saking ramainya orang-orang sampai lupa pada beranda rumahnya sendiri yang telah lama lengang. Disinilah salah satu tempat untuk si Fulan bersuara, menyuarakan apa saja yang menurutnya kebenaran, mulai berita yang bersumber dari media abal-abal yang konon katanya anti mainstream, koran sobek, dan foto-foto daring dari segala sumber tanpa memeriksa keaslian data foto tersebut. Ketika menyinggung isu ras dan agama, jangan tanya apakah si Fulan malu atau tidak saat mengklaim dirinya sebagai manusia yang menjunjung tinggi perbedaan, karena perbedaan baginya adalah apa saja yang tidak berseberangan pendapat dengannya, lalu mengikuti aturan yang kapan saja bisa dibuat oleh mayoritas suara tanpa mempedulikan sisi pendidikan dan kemanusiaan.

Hal ini semakin menguat ketika suasana politik dan perebutan kekuasaan semakin memanas, tentunya para politikus sangat diuntungkan oleh kehadiran si Fulan sebagai kekuatan massa dalam menjatuhkan lawannya. Si Fulan mendadak jadi pejuang, dan semoga saja si Fulan benar-benar tidak tahu kalau dirinya dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Sebagai manusia yang malas ribut tentang hal yang itu-itu saja, saya terpaksa menghormati keputusan beberapa kawan yang mengikuti si Fulan, hingga pada akhirnya kawan-kawan tadi menyindir bahkan menyimpulkan saya sebagai yang sesat. Tapi, selang beberapa lama sebagian kawan tampaknya mulai muak, sadar dan mungkin malu untuk mengikuti langkah si Fulan yang makin berada dalam kebingungan.

Saya tidak merasa paling benar, hanya saja menolak untuk mengikuti si Fulan, dan tunduk pada aturannya. Apapun itu, silahkan berpendapat bahwa cara-cara yang dilakukan si Fulan itu benar, dan semoga saja saya tidak masuk ke dalam barisan penghakim yang berusaha untuk mencabut gelar, dan memberi gelar buruk orang-orang yang tidak sepaham. Demikian, bila terdapat banyak kesalahan dalam tulisan ini, dan terasa sangat membosankan atau menyebalkan, harap maklum karena saya adalah pemula yang payah.