Kembali dan Bertemu kembali

Jpeg

“Tidak ku sangka kita akan bertemu lagi di Kota ini”. “Maksudmu di desa ini ?”.

Dia memotong sembari menatap langit dan bukit-bukit yang dihiasi matahari senja yang perlahan mulai tenggelam, bukit-bukit hijau dan batu semakin terlihat indah saat itu. Garis keningnya terlihat sangat jelas menahan pancaran sinar matahari.

“Hmm … aku tahu maksud mu tentang kota kecil kan ?”.

“An, kau selalu tidak pernah mengerti dari dulu sejak kita SMA, pasti kau masih ingat ketika kau mengantarkanku ke rumah ketika mendung setelah acara sekolah.  Aku berharap hujan akan segera turun, lalu aku mencari akal agar kita bisa lebih lama di jalan, aku bisa lebih lama memegangi pinggangmu, bersandar di pundak mu, lalu entahlah, apakah kita akan mencari tempat berhenti sebentar ? kau pasti akan terus memacu laju sepeda motor mu, semua orang tahu kau sangat pemalu, tidak ada satupun yang tahu ketika itu An, tidak ada.”

Pikiranku serasa dihantam oleh banyak hal-hal sialan dan dikurung rasa malu yang sangat dingin.

“Tapi …”. Aku berusaha menjawab dan sekadar berbicara agar tidak hanya diam, kini ia kembali berkata.

“Tentu, saat itu kita masih sangat remaja. Hingga kau terlalu bersemangat mencari perhatian gadis yang kau suka, Nindi. Meskipun kau sangat pemalu”.

Ia tersenyum kecut, memandang ke arah ku. Kali ini aku tidak bisa berkata apa-apa lagi. Aku ingat Nindi yang kini telah berkawin dengan salah seorang teman ku yang masih sama satu kuliahan. Ingatan ku hanya sekilas tentang bagaimana mereka menyirami tumbuhan mereka di taman, berdiskusi tentang apa saja yang patut untuk dijadikan bahan dasar sabun alami yang akan mereka produksi. Ah, tidak apa. Mereka memang serasi, cerdas, dan tidak menyebalkan. Terkadang itu sudah cukup bagiku untuk menerima kenyataan bahwa Nindi telah berkawin dan segera memiliki satu orang anak, dua atau mungkin tiga, dan empat.

“Aku malas membicarakan orang yang telah berkeluarga Ren”. Kataku kepada Rena datar.

“Haha… ayolah”. Rena tertawa menengadah, kali ini rambutnya yang panjang membelai pipiku. Rambut itu mengingatkanku pada “sajak putih” Chairil Anwar, namun aku tak bisa apa-apa bila dibandingkan Chairil yang binatang jalang itu.

“Tidak, benar-benar tidak, saya tidak ingin lagi membahas Nindi. Lalu, bagaimana dengan lelakimu ?”. Aku balik bertanya pada Rena, ia diam sejenak dan suasana senja semakin senyap saja kurasa.

“Hmm… ya, ku harap kau tidak menanyakan hal itu, tapi … sejak awal kuliah hingga semester akhir ini aku tidak pernah menjalin hubungan yang serius, entahlah aku merasa tidak ada yang patut aku cintai”. Rena menjawabku dengan tenang, dan singkat. Kali ini aku tak tahu mengapa aku bisa sangat mengaguminya.

“Bagaimana kalau kamu dan aku, maksudku aku menyukaimu, sial aku baru saja mengatakan ini padamu”. Kata-kata itu spontan keluar dari mulutku.

“Aku tidak suka kalau hal semacam ini mejadi lelucon An”.

“Ti … tidak Ren, aku sangat serius. Tiba-tiba saja aku memikirkan kau lebih dari hanya sebatas kawan yang bisa ku ajak untuk sekadar berkencan atau menertawai lelucon-lelucon jorok kita di kantin belakang kampus saat semester awal dulu”. Aku menjawab dengan gugup.

“Sebenarnya aku mau saja, tapi ada beberapa hal yang saya sendiri tidak tahu dan sulit untuk dijelaskan, sudah beberapa minggu ini aku depresi, tapi aku tidak akan menolak ini aku sudah lama berharap kau mengatakan ini, aku sudah lama mengatakannya padamu, tapi seperti biasa kau tidak pernah menanggapiku serius. Menunggu itu menyebalkan, dan sebaiknya kita tidak membahas tentang depresi, aku yakin kau tahu tempat terbaik malam nanti untuk kita”. Energi Rena serasa masuk lewat tatapan mata, beruntunglah Rena tidak mengumpatku, aku seperti terdampar di gunungan es yang masih tinggi, lalu kapal penyelamat datang tepat waktu.

“Belum terlambat untuk memulai lagi”. Jawabku.

Aku merasa hangat ketika itu, kubayangkan tumpukan buku-buku di ruang kerjaku kini tidak hanya aku seorang yang akan membacanya, aku bisa berbagi film-film kesukaanku, akan kubiarkan Rena merawat koleksi vinyl dan kaset pitaku, kami akan bercerita tentang Bonnie dan Clyde, teknologi tepat guna untuk masyarakat, apakah sebenarnya New Zealand itu benar-benar indah, bagaimana Inggris itu sebenarnya, dan cerita lainnya yang takkan ada habisnya.

“Ada satu restoran cina …”

“Tunggu dulu, agar aku bisa bertemu dengan kawan-kawan ku, dan setidaknya orang-orang tidak menatap mata sipitku terlalu lama ?, aku bosan dengan lelucon rasis itu”. Rena memotong perkataanku, dan kami hanya tertawa.

“Haha, tidak seperti itu, akupun malas dan sudah agak bosan kalau mengulangi yang itu.” Jawabku.

“Tidak, aku tidak benar-benar suka makan di restoran cina, dan tidak ada bedanya bagiku aku tidak pemilih, kecuali satu”.

Aku hanya tertawa kecil dan malu dengan jawaban Rena. Wangi rerumputan di padang yang luas mengiringi temaram, dan sudah saatnya kami beranjak.

Saat berdiri tiba-tiba barulah aku sadar, sebaiknya aku mulai berhenti mengkonsumsi morfin hari ini, dan meminum obat yang diberikan dokter. Bayangan Rena menghilang seiring kesadaran yang tak tentu kapan datangnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s