My First Vaporwave Art

Hai kawan, singkat cerita ini adalah tiga rupa-rupa karya saya yang pertama (di internet). Salin tempel dari microblog saya. Dalam proses pengerjaannya yang bisa dibilang cukup singkat saya belajar banyak hal tentang teknik yang selama ini belum pernah saya temui, dan cara menyelesaikan masalah dimana foto suatu objek itu ditaruh agar sesuai dengan latar belakang dan objek-objek pendukung lainnya.

tumblr_oyl8xzrkl51w6d2qeo1_1280
Tan Malaka
Boy Sandi
Boy Sandi
Michael Parenti
Michael Parenti

 

Sekian dan terimakasih 🙂

Iklan

Memulai pagi dengan Fazerdaze

fazerdaze
Fazerdaze

Morningside adalah album kedua dari Fazerdaze setelah rilis Fazerdaze EP 2014 yang lalu. Saya sangat yakin “Morningside” adalah awal yang meski bukan yang paling awal dari masa-masa karir yang cemerlang proyek Fazerdaze besutan Amelia Murray. Proyek yang diklaim dikerjakan di tempat tidur. Entah apa maksudnya, apakah ini hanyalah proyek iseng-iseng atau memang secara harfiah memang dikerjakan dalam ruangan yang sangat pribadi. Sisi introvert sudah sangat tercium disini.

Memang belum semua lagu yang saya dengarkan pada album ini. Meskipun hanya mendengar beberapa lagu, saya sudah bisa merasakan gairah, dan semangat kegadisan dari seorang Amelia Murray. Amelia Murray dan bandnya maka jadilah Fazerdaze yang menyajikan musik pop santai dengan sentuhan gitar elektrik beserta pedal.

Dua dari beberapa andalan single album ini menurut saya adalah Lucky Girl dan Take It Slow. Pada Lucky Girl kita akan disambut dengan intro yang tenang, suara gitar yang cukup datar diiringi suara lembut entah itu piano atau synthesizer. Ketika suara vokal Amelia masuk maka terdengar seperti kisah fiksi robot yang sedang kasmaran namun tetap sederhana dan rendah hati. Kerendahan hati memang membuat semua hal akan menjadi lebih indah. Lalu diksi yang sama diulang berkali-kali :

“I know that I’m a lucky girl
I’m a lucky, lucky girl
I’m a lucky girl
I’m a lucky, lucky girl
I’m a lucky girl
I’m a lucky, lucky girl girl girl girl girl”

Suatu penegas bahwa Amelia membuat lagu ini dalam suasana gembira ria, penuh rasa syukur, serta tidak lupa untuk tetap percaya diri sebagai seorang gadis yang selalu penasaran dan ingin berpetualang mencoba hal-hal baru. Entah kenapa saya merasa lagu ini sangat bagus didengarkan saat kalian sedang membersihkan rumah atau memasak di hari minggu pagi, atau sedang santai-santai saja. Mohon koreksi saya ketika kalian sudah mendengarkan lagu ini.

Lalu untuk lagu Take It Slow, sangat sesuai dengan judulnya. Kadang sebagai manusia kita memang sering menemui kebuntuan dan ragu tentang kejadian yang akan datang. Ah, biasalah itu manusia. Ketika segala hal-hal sialan itu mendatangi hidup mu maka sebagai musisi kau mau apalagi ? bila kau tidak mendengarkan lagu, maka kau harus bersenandung dan merekamnya. Baiklah, take it slow sepertinya cukup baik untuk mengakhiri bersih-bersih rumah kalian sebelum liburan yang mungkin saja saat ini kalian sedang berada di Morningside, NewZealand.

Ini hanya review singkat.

Agar Iklan Anti-Rokok bisa bersaing

52486-Albert_Camus-anaglyph_3D-writers-men-cigarettes-748x421

wallup.net/albert-camus-anaglyph-3d-writers-men-cigarettes/

Iklan rokok sudah lama menghiasi layar kaca permisa tv Nusantara, mulai dari iklan rokok yang serius sampai yang membuat kita tertawa lebar. Tentunya perusahaan rokok dengan iklannya yang menjamur semakin banyak dikarenakan Negara kita ini sebagai salah satu konsumen rokok terbesar di Dunia. Tidak heran, karena mulai dari zaman kerajaan hingga pra kemerdekaan kretek sudah menjadi bagian dari budaya Nusantara.

Lalu entah kapan tahun pastinya, iklan dan kampanye anti rokok mulai gencar dilakukan dan kian populer. Mulai dari sekolah, perguruan tinggi, hingga tv. Ruang publik semakin dipenuhi dengan iklan dan kampanye anti-rokok sebagai pembawa pesan kesehatan bahwa merokok itu adalah sangat berbahaya. Namun, sebagai orang yang dulu juga pernah aktif sebagai perokok kelas iseng, saya tidak bisa mengamini begitu saja bahwa rokok adalah satu-satunya sumber penyakit paling berbahaya, sialan lagi mematikan.

Saya tidak ingin bicara terlalu dalam tentang benar tidaknya kampanye anti-rokok atau bagaimana kondisi kesehatan orang-orang yang merokok. Satu hal yang pasti, semua yang berlebihan itu tidak baik, dan ada baiknya para perokok ikut menjunjung tinggi tagar #tahubatas sebagai pengingat. Tagar yang telah lebih dulu digunakan para penikmat bir, yang mungkin nasibnya sama saja dengan para perokok. Namun para penikmat bir sepertinya lebih dihantui kaum paramiliter fasis agama ketimbang dokter dan pakar hipnotis.

Kembali lagi ke soal iklan. Meskipun iklan anti-rokok semakin populer, namun masih belum bisa menyaingi iklan rokok. Menurut penilaian pribadi, beberapa kali saya menyaksikan iklan anti-rokok  masih terasa membosankan. Pemirsa tv selalu disuguhi tema yang sama tentang bahaya merokok dan memperlihatkan dampak buruknya sebagai kunci kesialan paling sial dalam hidup, bahkan lebih sial lagi ketimbang tidak mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil dan merata, tanpa menunjukkan efek positif setelah berhenti merokok.

Berbeda dengan iklan rokok. Iklan rokok mungkin bisa dikatakan sebagai salah satu alasan mengapa pemirsa tv tidak bosan dengan jeda komersil saat menyaksikan tayangan kesayangan. Jarang sekali ada iklan rokok yang membosankan dan menyebalkan, kecuali kalau diputar berulang kali seperti iklan partai politik mungkin.

Iklan rokok dikemas dengan beragam dan apik, penuh hiburan dan inspirasi. Mulai dari contoh baik pertemanan, humor yang segar, dan kutipan tentang hidup yang selalu menginspirasi siapa saja  tanpa membedakan mana yang merokok, dan mana yang tidak. Tidak lupa orang-orang dengan karir  cemerlang dan masa depan yang cerah, lagi selalu di dekati wanita cantik sebagai sinyal keras tanda kesuksesan umum yang diterima masyarakat luas. Meskipun sebenarnya kesuksesan jelas bukan berasal dari sana. Seakan tidak pernah cemas, dan santai menunggu bahwa pasangan hidup telah menunggu mu di ujung sana. Ya, di ujung sana.

Maka, bila melihat kembali iklan anti-rokok. Jelas kita sama-sama tahu dimana kelemahannya. Tiada pesan positif tentang dampak apa yang terjadi setelah berhenti merokok seperti karir yang cemerlang dan enteng masalah asmara, nihil kutipan yang menginspirasi, miskin tema nada yang indah, lagi kaku, bahkan nyaris sempurna kacrut tanpa adanya jalan cerita tentang persahabatan, dan humor yang menghibur.

Sudah saat nya para anti-rokok piknik dan rekreasi, membaca bacaan yang bermutu, dan mendengarkan musik yang begus serta lebih variatif, meski membaca dan mendengarkan musik kembali lagi ke soal selera, sama halnya dengan rokok. Turun ke masyarakat umum ketika ada acara dangdutan, ikutan joget. Dengan begitu pikiran lebih terbuka dan inspirasi mudah didapat. Lalu koreografer handal harus diikutsertakan dalam proses pembuatan iklan untuk menciptakan gerakan yang mumpuni guna menambah daya dobrak iklan anti-rokok.

Saya jadi ingat sedikit lirik salah satu iklan rokok di tv “Kami datang buka jalan, kami datang buka pikiran”, maaf kalau liriknya salah. Pesan yang jelas sekali sangat membebaskan, tak mudah didikte. Jadi sudah saat nya iklan anti-rokok menerima salah satu pesan iklan rokok tersebut. Sudah saatnya iklan anti-rokok menawarkan kebaruan dan bersaing dengan iklan rokok yang penuh inspirasi, penuh warna-warni, yang kian hari makin cemerlang dan bersinar.

Linimasa, sejarah singkat WWW dalam sebuah imaji

Bila berbicara sejarah tentu tidak akan ada habisnya, lalu kita akan melihat masa depan, tetapi masa depan hanya akan sekadar (selalu) diprediksi, karena sebanyak apapun data tidak bisa memastikannya.


http://www.futureisnext.com

Tahun 1991 WWW sudah digunakan secara luas pada jaringan internet, melihat kembali ke belakang di tahun 1990 ‘World Wide Web’ sudah dapat dijalankan dalam lingkungan CERN, lalu mundur kembali di tahun 1989, Berners-lee sang penemu membuat pengajuan untuk proyek pembuatan hiperteks global. Menarik memang bila kita kita melihat sejarah menyelami apa saja tentang bagaimana peradaban, budaya, seni dan teknologi ditemukan dan terus berkembang.

Web sendiri telah banyak mempengaruhi peradaban manusia, dimana kita dapat saling bertukar ide, mengirim pesan, saling berkabar, dan belajar banyak pengetahuan pada jaringan internet. Tidak berlebihan memang bila kita harus (sedikit saja) mempelajari sejarahnya. Berikut adalah beberapa garis waktu singkat sejarah World Wide Web dari masa ke masa yang akan dikemas seperti cuitan atau status di media sosial, mari memasuki ruang imaji.

1992–1995: Dimana web semakin berkembang
“Hmm ada 500 Server , ada yang tahu apa itu web browser ?”

1996–1998: Komersialisasi Web
“Hmm mau bikin toko online sepertinya bagus ya bung ?”

1999–2001: “Dot-com” mendobrak
“Dot-com sudah seperti album musik pop yang meledak di pasaran”

2002–hingga hari ini:
“Bikin tugas tentang web 3.0 di cafe”

Gambaran masa depan:
“Sedang membiasakan anak agar jarang bermain dengan robot, sembari menyelesaikan target membaca 100 buku, dan membangun perpustakaan gratis untuk umum tahun ini. Senang sekali ternyata buku cetak tetaplah media yang dicari oleh semua orang untuk membaca”

Itulah garis waktu singkat, dialog imajiner manusia yang mempengaruhi perkembangan web. Hingga kemarin saya berkesempatan untuk menonton film dokumenter tentang web, dimana disana ada beberapa tokoh penting seperti kalian para pengantusias, desainer dan pengembang web. Brad Frost, Eric Meyer, Jeffrey Zeldman dan Tim Berners-Lee sendiri serta sejawat lainnya. Kalian bisa menontonnya di vimeo.

Salah satu adegan di Film “What Come Next Is The Future”

Semoga setelah menyaksikan film nya akan ada masukan dan kritik dari kawan-kawan di IMDB, dan semakin terinspirasi untuk saling berbagi, membangun komunitas agar WEB lebih baik lagi.

Bonus :

 

Catatan:

Sebelumnya tulisan saya ini pernah berusaha saya muat di salah satu portal online, tetapi karena beberapa hal tulisan ini gagal dimuat, akhirnya saya memutuskan untuk menulis kembali di medium dan sedikit melakukan perubahan pada tulisan ini. Tulisan telah diketik sejak desember 2016 lalu.

Sumber referensi :

https://id.wikipedia.org/wiki/World_Wide_Web
https://en.wikipedia.org/wiki/History_of_the_World_Wide_Web#1992.E2.80.931995:_Growth_of_the_Web
https://vimeo.com/bearded/future-is-next
http://www.futureisnext.com/

Buku cetak sekarat, panjang umur buku !

Karena buku cetak dan digital sama-sama dibutuhkan

Sekitar tahun 90’an generasi cindy cenora sangat diasyikkan dengan beberapa majalah anak-anak salah satunya yang paling terkenal adalah majalah Bobo, ruang tamu dan kamar pun dihiasi dengan koleksi majalah anak-anak, tak peduli ketika itu orang tua pusing dengan krisis moneter, lalu saat remaja mungkin kalian akan berkenalan dan jatuh hati dengan fantasi teen, hai, dan majalah remaja lainnya selain beberapa novel dan buku pelajaran yang akan kalian pinjamkan pada teman atau pacar.

Lalu, di sisi lain seorang introvert akan bergegas pulang ke rumah seusai sekolah yang baginya kadang memuakkan tanpa memedulikan orang-orang yang sudah menganggapnya sebagai kawan, lawan atau mengaguminya. Ia berjalan dengan kepala sedikit menunduk, seolah membayangkan di jalanan ada gambaran hal-hal luar biasa yang akan dilakukannya di rumah, sesampainya di rumah, majalah konsol permainan video, cepat ia ambil diatas tumpukkan buku bacaan fiksi koleksinya yang tidak boleh terlipat sedikit pun.

Teknologi berkembang sangat cepat, hingga tahun 2004 menurut saya adalah awal internet menjadi sangat populer, dan mulai menyebar ke desa-desa disertai bangkitnya media sosial. Hari ini, orang-orang dengan bebas dan mudah bisa mengakses berita, mencari referensi untuk tugas kuliah, info lowongan kerja, dan membaca buku/majalah secara daring berkat pengolahan data dan komputasi awan. Melihat hal itu, banyak pakar dan yang bukan pakar teknologi diikuti pengantusias buku meramalkan kiamat buku cetak.

Di Indonesia sendiri ramalan kiamat buku semakin menguat ketika rolling stone telah lama menyediakan majalah digital, terbitan novel terbaru bisa diunduh di play store, aplikasi native maupun web berlomba-lomba untuk menyediakan jasa membaca artikel dan berita pilihan guna memenuhi kebutuhan para pembaca.

Namun, kenyataannya toko buku fisik tetap ramai dikunjungi, orang-orang tetap betah untuk berlama-lama membaca di perpustakaan, Jonru dengan bangga menerbitkan buku “Cara Dahsyat Menjadi Penulis Hebat”, dengan cover ilustrasi dirinya mengenakkan kostum super hero disertai logo huruf p (penulis) hebat mungkin ?, padu padan dengan pena raksasa di tangan kanan, dan kertas di tangan kiri. Pesan yang saya dapat adalah “Hei inilah aku, penulis hebat. Setiap kata-kata ku adalah final !”, haha.

Lalu, mengapa buku cetak tetap banyak dijadikan media untuk membaca dan buku digital adalah ide yang sangat bagus ?. Berdasarkan pengalaman pribadi saya sendiri ada beberapa hal yang membuat buku cetak tetap diandalkan, di antara lain adalah :

  • Ketika akan membeli buku kita dimudahkan dengan membaca ringkasan isi dan beberapa konten yang akan dihadirkan untuk dibaca, dan itu langsung berada di tangan, dimana pada buku digital saat di situs online ditampilkan dengan tampilan terbatas dan dibutuhkan navigasi tertentu untuk melihat ringkasan isi dan konten.
  • Membaca buku cetak sangat santai, bebas dari radiasi cahaya, dan buku cetak sendiri tidak membutuhkan energi agar memungkinkan kita untuk membaca. Buku digital sangat ringan dan tidak menyusahkan ketika ternyata ketika dicetak dalam buku cetak akan sangat tebal.
  • Walaupun memakan banyak tempat dan kadang menyusahkan saat pindahan, buku-buku koleksi mengajarkan saya bagaimana caranya mengatur letak buku-buku agar estetik dan sesuai dengan besar ruangan, menyortir sesuai kebutuhan dan kategori. Dalam hal ini buku digital tidak pernah merepotkan.
  • Meskipun pada buku digital ada fitur untuk mencari kata tertentu, tetapi pada buku cetak kita disuguhi pengalaman membaca yang lebih bebas untuk membolak-balik halaman buku.
  • Terakhir, bagi saya adalah rasa puas untuk memiliki. Saya sudah merasa memiliki buku kalau memang rilisan buku tersebut hanya dalam bentuk digital, tetapi saya belum merasa sepenuhnya memiliki buku kalau buku tersebut dirilis dalam bentuk digital dan cetakan, sedangkan saya hanya mengunduh buku digital, pada sisi lain saya diuntungkan karena tidak perlu ke toko fisik untuk membelinya atau menunggu sangat lama untuk mendapatkannya.

Oleh karena itu bagi saya membandingkan buku digital dan buku cetak, atau mana yang lebih unggul, adalah hal yang kurang tepat. Apalagi ide mengubah semua buku ke dalam bentuk digital, karena tidak bisa dipungkiri kita membutuhkan kedua-duanya dalam keadaan, dan situasi tertentu.

Hal tersebut bagi saya bukan hanya sebatas nostalgia semata, walaupun mungkin nostalgia bagi sebagian orang sangat mempengaruhi dalam pilihan tersebut. Tetapi jangan salah, saya termasuk orang yang tidak begitu suka, bahkan kadang benci dengan nostalgia. Terdengar ambisius dan berlebihan ?, saya tidak peduli, semoga saya tidak sendiri.

Buku adalah teks yang dicetak dan yang terpampang pada layar, atau bisa juga terbagi pada media lainnya. Panjang umur membaca ! Panjang umur buku !

Menghormati Keputusan si Fulan

Butuh pengikut untuk setuju atau sekadar bingung terbawa arus

Akan sangat mudah bagi kita untuk menghormati pendapat dan keputusan kawan yang memang sudah biasa berbeda dari kita, lebih lagi jika tingkat pengetahuan dan kesabarannya telah lama kita ukur. Namun, hal itu sudah tidak biasa lagi ketika sudah menghakimi cara berkeyakinan, pakaian seperti apa yang layak pakai, dan guru mana yang patut diikuti agar menjadi suatu kewajban untuk dipatuhi, bila tidak bersiaplah dengan label munafik, kafir, dan sesat.

Bahkan seorang guru besar dan ulama yang berilmu tak luput dari caci maki “haram zadah !”, tanpa berpikir panjang sebut saja namanya si Fulan bahkan mengatakan si ulama tadi telah memakan daging haram, tentu masih ada (saja) orang-orang yang menyukai caci maki si fulan ini, setiap kata-kata yang keluar dari mulut si fulan adalah final, setiap pendapatnya seolah menjadi hukum yang wajib dipatuhi, semua harus setuju. Bila ingin menyanggah harus ada sedikit pujian untuk pendapatnya, walaupun dalam kenyataan pendapatnya itu tidak berdasarkan fakta, sekadar asumsi bahkan isu yang tidak jelas.

Media sosial hari ini adalah tempat yang ramai untuk bersuara, bahkan saking ramainya orang-orang sampai lupa pada beranda rumahnya sendiri yang telah lama lengang. Disinilah salah satu tempat untuk si Fulan bersuara, menyuarakan apa saja yang menurutnya kebenaran, mulai berita yang bersumber dari media abal-abal yang konon katanya anti mainstream, koran sobek, dan foto-foto daring dari segala sumber tanpa memeriksa keaslian data foto tersebut. Ketika menyinggung isu ras dan agama, jangan tanya apakah si Fulan malu atau tidak saat mengklaim dirinya sebagai manusia yang menjunjung tinggi perbedaan, karena perbedaan baginya adalah apa saja yang tidak berseberangan pendapat dengannya, lalu mengikuti aturan yang kapan saja bisa dibuat oleh mayoritas suara tanpa mempedulikan sisi pendidikan dan kemanusiaan.

Hal ini semakin menguat ketika suasana politik dan perebutan kekuasaan semakin memanas, tentunya para politikus sangat diuntungkan oleh kehadiran si Fulan sebagai kekuatan massa dalam menjatuhkan lawannya. Si Fulan mendadak jadi pejuang, dan semoga saja si Fulan benar-benar tidak tahu kalau dirinya dimanfaatkan untuk tujuan tertentu. Sebagai manusia yang malas ribut tentang hal yang itu-itu saja, saya terpaksa menghormati keputusan beberapa kawan yang mengikuti si Fulan, hingga pada akhirnya kawan-kawan tadi menyindir bahkan menyimpulkan saya sebagai yang sesat. Tapi, selang beberapa lama sebagian kawan tampaknya mulai muak, sadar dan mungkin malu untuk mengikuti langkah si Fulan yang makin berada dalam kebingungan.

Saya tidak merasa paling benar, hanya saja menolak untuk mengikuti si Fulan, dan tunduk pada aturannya. Apapun itu, silahkan berpendapat bahwa cara-cara yang dilakukan si Fulan itu benar, dan semoga saja saya tidak masuk ke dalam barisan penghakim yang berusaha untuk mencabut gelar, dan memberi gelar buruk orang-orang yang tidak sepaham. Demikian, bila terdapat banyak kesalahan dalam tulisan ini, dan terasa sangat membosankan atau menyebalkan, harap maklum karena saya adalah pemula yang payah.